Rabu, 15 Agustus 2012

MIMPI YANG MENGGENANG

aku bermimpi setiap kali kelopak mata merapat. dan  mimpi itu kian menggenang serupa banjir  darah yang kemarin menghanyutkan bulan yang jatuh di atap rumahku. lalu kita memecahkan keheningan mimpi  dengan mengubur dalamdalam puingpuingmasjid  yang berserakan di hati
                        dilangit bintang gemintang serupa kerikil yang kita tebar di halaman masjid. cahaya
            keemasannya bak darahdarah yang mengalir dari jamaah masjid yang diseruduk
                                                kerikil penuh amarah
aku bermimpi setiap kali merebahkan badan ke atas dipan
dan mimpi itu kian melubermengotori baju pucatku yang hendak kusandang
ke masjid tua itu. Awalnya merah darah menjelma kelam melegam
                        aku bermmpi tentang sebuah masjid di utaraku dan sebuah surau di
            baratku
aku bermimpi tentang sebuah masjid yang tergenang ranjau dan sebuah
            surau yang sama sekali tak kutahu bentuknya
aku bermimpi tentang sebuah masjid yang berkobar api dan sebuah surau
              yang tergenang darah
                        aku bermimpi  darah yang yang menggenang di sepanjang jarak hubungan kami dan mereka. mimpiku menggenang....                                                       (peristiwa itu)         

                (saya benar benar mohon maaf, sebenarnya saya sama sekali tak berbakat dalam bidang puisi. Tapi entah mengapa banyak yang bilang puisi saya bagus bagus)