aku
bermimpi setiap kali kelopak mata merapat. dan
mimpi itu kian menggenang serupa banjir
darah yang kemarin menghanyutkan bulan yang jatuh di atap rumahku. lalu
kita memecahkan keheningan mimpi dengan
mengubur dalamdalam puingpuingmasjid
yang berserakan di hati
dilangit bintang
gemintang serupa kerikil yang kita tebar di halaman masjid. cahaya
keemasannya bak darahdarah yang
mengalir dari jamaah masjid yang diseruduk
kerikil
penuh amarah
aku
bermimpi setiap kali merebahkan badan ke atas dipan
dan
mimpi itu kian melubermengotori baju pucatku yang hendak kusandang
ke
masjid tua itu. Awalnya merah darah menjelma kelam melegam
aku bermmpi tentang
sebuah masjid di utaraku dan sebuah surau di
baratku
aku
bermimpi tentang sebuah masjid yang tergenang ranjau dan sebuah
surau yang sama sekali tak kutahu
bentuknya
aku
bermimpi tentang sebuah masjid yang berkobar api dan sebuah surau
yang tergenang darah
aku bermimpi darah yang yang menggenang di sepanjang jarak
hubungan kami dan mereka. mimpiku menggenang.... (peristiwa itu)
(saya
benar benar mohon maaf, sebenarnya saya sama sekali tak berbakat dalam bidang
puisi. Tapi entah mengapa banyak yang bilang puisi saya bagus bagus)
kasih lah komentar tuh
BalasHapus